ULASAN BUKU KI HADJAR DEWANTARA [#22]

: March 25, 2019


KI HADJAR DEWANTARA JILID I 
BAB II POLITIK PENDIDIKAN [#22]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka


: Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan, hingga Literasi Kita Hari Ini


Setiap rakyat memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Penerapan politik etis dan kordonansi sekolah yang dicap liar membatasi rakyat untuk memperoleh haknya di bidang pendidikan. Pendidikan seharusnya diberikan dengan tujuan untuk memerdekakan individu. Merdeka pikiran, batin, dan tenaganya. Bukan diberikan untuk melanggengkan kekuasaan kolonial.

Terbatasnya sekolah dan aturan pemerintah kala itu membuat KHD berpikir agar semua rakyat mendapatkan pendidikan dan pengajaran. KHD menggagas mobilisasi intelektual untuk program wajib belajar. Gagasan tersebut ditawarkan kepada seluruh kaum terpelajar guna memberikan tenaganya. Salah satu programnya adalah melaksanakan pemeberantasan buta huruf.

Dengan semboyan; tiap rumah jadi Perguruan dan tiap orang jadi Pengajar, mampu menggerakkan massa untuk aktif dalam mendidik rakyat. Pengajaran pertama yang diberikan kepada rakyat yakni pengajaran membaca dan menulis permulaan. Siapapun orangnya yang cakap membaca dan menulis wajib mengajarkan keterampilannya itu pada siapapun juga, baik anak-anak maupun orang tua,  laki-laki maupun perempuan. Tiap-tiap rumah harus menjadi perguruan. 

Tak mudah merealisasikan mobilisasi intelektual nasional. Agar mobilisasi tersebut berjalan dan tepat sasaran maka diperlukan penyadaran di semua lini. Upaya yang bisa dilakukan yakni mendidik cantrik-cantrik (murid setingkat mahasiswa), minta pertolongan tenaga sukarela dengan perantaraan pergerakan pemuda, orang tua murid, dan dalam umumnya minta pertolongan kepada rakyat seluruhnya.

Sistem bisa dijalankan dengan beberapa pembagian. Terdapat pusat pawiyatan, segala pengajaran disusun oleh guru pemimpin ahli di bawah tuntunan dan pengawasan Majelis Luhur, yang wajib mencetak pengajaran tertulis dan menyiarkan kepada tiap cabang dan rakyat. Tiap-tiap pawiyatan, bersedia menambah pengajaran kepada murid-muridnya di mana pun dibutuhkan, dengan menggunakan sistem Dalton; memberi keleluasaan kepada murid untuk belajar di Pawiyatan, atau guru terjun langsung ke kampung-kampung dan desa-desa, dengan kadang mengadakan pertemuan.

Dalam pelaksanaan mobilisasi tersebut, pemberian materi disajikan dalam bentuk teks, yang selanjutnya menjadi bahan pengajaran membaca dan menulis oleh sekalian relawan. Ada dua macam pelajaran tercetak; a) pelajaran pengetahuan umum, dan b) pelajaran caranya mengajar atau metode. Keduanya disusun dengan bahasa amat populer, sehingga sistem dapat dilakukan oleh rakyat dan untuk rakyat.

Ada dua media publikasi materi yang bisa didapatkan oleh sekalian rakyat. Yakni melalui majalah Keluarga serta Keluarga Putera. Pada majalah Keluarga akan memuat materi tentang caranya mengajar, sedangkan di dalam Keluarga Putera akan memuat pelajaran umum yang diperlukan untuk latihan membaca dan menulis permulaan.

Asas yang dipakai KHD dalam penerapan mobilisasi intelektual berdasarkan kultur dan sosial bangsa. KHD menggunakan istilah metode keluarga. Metode keluarga ini mudah dipraktekan oleh tiap-tiap orang, karena setiap rumah adalah perguruan, dan setiap orang pandai menjadi pengajar. Metode ini dimaksudkan untuk mengundang tiap-tiap kaum terpelajar untuk turut melenyapkan buta huruf.

Mendidik rakyat berarti mendidik bangsa. Rakyat yabg terdidik akan mampu memberikan kontribusi demi kemajuan bangsa. Gerakan pemberantasan buta huruf yang dilakukan KHD mampu dijadikan inspirasi. Melalui lembaga kecil bernama keluarga, cita-cita besar bangsa bisa terwujud. 

Saya merasa ada kesinambungan antara gerakan pemberantasan buta huruf yang diprakarsai KHD dengan gerakan literasi yang saat ini sering digalakan. Pada masa KHD tingkat keberaksaraan masih rendah, sehingga hal yang perlu digalakan ialah aktivitas balitung (baca tulis hitung). Sedang sekarang tingkat melek huruf sudah lumayan tinggi, namun tidak disertai dengan kesadaran berliterasi.

Kemampuan berliterasi sangat penting di era pesatnya arus informasi saat ini. Literasi tak sekedar mengeja huruf dan menghitung angka. Literasi adalah kemampuan bernalar kritis dalam menimbang dan menilai suatu informasi, audiovisual. Bekal pengetahuan atau literatur yang sudah ada dalam diri menjadi faktor berpengaruh dalam merespon suatu fenomena maupun keadaan.

Literasi diawali dari kesadaran membaca aktif, lanjut ke etos kesadaran pentingnya membaca. Kesadaran literasi akan mewujud filter dalam menilai informasi-informasi yang didapat. Apakah informasi tersebut baik, bagaimana menyikapinya dengan benar, hingga apa pentingnya bagi kontribusi taraf hidup.

Berliterasi artinya mengaktifkan proses input dan output. Bagi saya, literasi adalah kemampuan membaca dan menyelaraskan tanda, dalam laku rasa, pikir, dan karsa. Tidak melulu soal huruf dan angka. Melainkan juga hidup dan kehidupan diri sebagai manusia. 

Saat ini banyak orang yang gemar membaca. Membaca bacaan yang menurut mereka baik. Namun output yang dihasilkan jauh berbeda dengan isi bacaan. Orang jadi suka berdebat dan saling menyalahkan. Menjadi sumber terjadinya konflik. Orang macam ini bagi saya kesadaran literasinya sangat rendah, walaupun dia sudah berjibun-jibun menghabiskan bacaan buku. Alasannya sederhana, buku yang berisi kebaikan bisa menimbulkan sikap yang berbeda. Ada yang biasa saja, ada yang jadi pemarah, ada yang jadi pemaki, ada yang jadi perenung dan lain-lain.

Kalau ada orang yang banyak baca buku baik, namun output yang dihasilkan buruk bagi kemanusiaan, maka yang bermasalah bukan bacaannya, namun persona orangnya yang tidak beres. Sekali lagi, berliterasi bukan sekedar membaca teks namun juga konteks. Berliterasi ialah masalah input dan output, keselarasan kemampuan luhur dalam cipta, rasa, dan karsa.

KHD telah meletakkan gagasan dasar literasi, yakni gerakan membaca dan menulis permulaan. Tugas kita hari ini ialah melanjutkan misi literasi untuk menjadi manusia yang berbudi luhur. Gerakan enam dasar literasi harus digalakan, disertai penyadaran kritis menanggapi fenomena agar output yang dihasilkan benar. Siapkah?



25 Maret 2019