ULASAN BUKU KI HADJAR DEWANTARA [#24]

: March 27, 2019


KI HADJAR DEWANTARA JILID I 
BAB II POLITIK PENDIDIKAN [#24]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka



: Titik Temu KHD, Tagore, dan Montesori


Perjalanan Taman Siswa mendapatkan apresiasi dari beberapa tokoh pendidikan internasional. Apresiasi ini merupakan sebuah kehormatan bagi Taman Siswa, dan bangsa Indonesia masa itu. Kunjungan oleh tokoh penting pendidikan internasional sekelas Tagore dan Montessori seolah menjadi penghargaan, ketika oleh beberapa kalangan di Indonesia sendiri dicap sebagai sekolah liar.

Kunjungan Tagore pada bulan Agustus 1927 sangat besar pengaruhnya. Tagore merasa tertarik pada model pendidikan dan pengajaran Taman Siswa. Tagore juga kagum terhadap tarian-tarian Jawa dan musik gamelan, hingga beliau ingin memasukkannya pada pelajaran di ashrama Shanti Niketan, lembaga pendidikan milik Tagore.

Tagore dalam beberapa karyanya juga menuliskan kekagumannya terhadap tanah Jawa dan kebudayaannya. Beliau menerangkan bahwa orang Jawa lebih pandai mewujudkan cerita yang berasal dari kebudayaan India sebagai tonil daripada masyarakat India sendiri. Seperti tonil dari cerita-cerita Ramayana.

Tagore dalam pengamatannya terhadap Taman Siswa menerangkan bahwa ada memiliki titik temu atau persamaan dasar dengan Shanti Niketan. Semenjak kunjungan Tagore tersebut, terjadi hubungan yang sangat erat antara Taman Siswa dengan Shanti Niketan. Beberapa murid Taman Siswa ada yang melanjutkan studi ke Shanti Niketan. Begitu sebaliknya, Taman Siswa mendapat kunjungan belajar dari murid Shanti Niketan selama beberapa bulan. Murid tersebut merupakan utusan yang diminta untuk belajar tarian dan musik Jawa yang disukai oleh Tagore, untuk dimasukkan dalam pelajaran kesenian di Shanti Niketan.

Hubungan dengan tokoh pendidikan; Montessori, juga ditampakan KHD dalam artikel majalah Pusara Desember 1940 jilid X no. 12. KHD menuliskan rasa bahagianya karena Taman Siswa hendak mendapat kunjungan dari Montessori. Montessori merupakan pemikir pembaharu konsep pendidikan awal abad 20. Konsep pendidikannya banyak mengambil hati orang-orang Eropa. Bahkan di Amerika sistem pendidikan Montessori banyak yang memakai.

Namun semenjak munculnya fasisme nazisme di tanah Eropa, penganut sistem pendidikan Montessori banyak yang mengalami kesukaran. Dasar pendidikan Montessori menekankan pada kebebasan dan spontanita seseorang. Kemerdekaan hidup yang seluas-luasnya, mengurangi kuasa dari guru dan orang tua terhadap hidupnya kanak-kanak, kembali kepada kodrat-iradatnya kanak-kanak, yakni mengakui penguasa dari yang mengadakan hidup, ciptaan, dan mengembalikan penguasa itu kepada-Nya. 

Dalam konsep pendidikannya, Montessori menganjurkan; bebaskanlah anak, rohaniah maupun badaniah, dari ikatan-ikatan yang ia derita dari peraturan-peraturan masyarakat yang merugikan; sebab hanya dalam kebebasan yang mutlak, yang hanya bergantung kepada alam dan yang mengadakan hidup, barulah mungkin ada pertumbuhan yang wajar dari seseorang.

KHD mengatakan adanya titik pertemuan (konvergensi) antara Montessori dan Taman Siswa, meskipun dalam berlakunya teori Montessori dan Amongsysteem ada juga bedanya. Maksud dari Amongsysteem yaitu; menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri. 

Montessori dan Tagore adalah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru. KHD sendiri mengakui ketertarikan dengan pemikiran kedua tokoh tersebut sejak lama. Yaitu sejak beliau berada di Eropa, tinggal di Nederland, tahun 1913-1919. Pada waktu itu orang Eropa banyak yang tertarik oleh kedua pemikiran tokoh tersebut. Tagore dan Montessori menganggap bahwa pendidikan dan pengajaran di Eropa itu sungguhpun menyuburkan intelektualitas, akan tetapi sebaliknya mematikan perasaan. Membalikkan jiwa manusia dari derajat budi menjadi mesin belaka. Kedua ahli itu hendak melepaskan-melepaskan ikatan-ikatan tersebut. Keduanya hendak memerdekakan manusia.

Perbedaan antara aliran Montessori dan Tagore itu terletak pada tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak, teristimewa hidup panca inderanya, yang sungguhpun kelak akan diarahkan pada kecerdasan budi juga, akan tetapi hidup batin menurut Montessori semata-mata bersifat psikologis, dalam arti secara ilmiah, jauh dari pada tujuan spiritual atau religius. Sebaliknya Tagore membentuk sistem pendidikan anak-anak itu semata-mata sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh hidup kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Pandangan Tagore nampak terang pada karya-karyanya, yabg di tahun 1913 mendapatkan nobel sastra internasional.

Titik temu pemikiran dari ketiga tokoh tersebut terdapat pada konsep pendidikan yang memerdekakan, berdasar pada kodrat dan kemanusiaan, pendidikan utuh secara jasmani dan rohani. Mengembalikan manusia seutuhnya, bukan sebagai mesin. Demikian.



27 Maret 2019