ULASAN BUKU KI HADJAR DEWANTARA [#25]

: March 28, 2019


KI HADJAR DEWANTARA JILID I 
BAB II POLITIK PENDIDIKAN [#25]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka


: Reformasi Pendidikan


Membaca konsep pendidikan KHD menimbulkan risiko. Perbedaan zaman, situasi sosial, politik, dan kebudayaan masa KHD perlu pembacaan berulang. Karakteristik umum pada masa itu ialah kontras antara Timur dan Barat. Sebab sekat yang muncul karena kolonialisasi dan situasi perang dunia ke-II.

Dalam pendidikan abad ke-20 mulai bermunculan pemikir pedagogi kritis dan pendidikan humanis. Kemungkinan dipengaruhi oleh krisis kemanusiaan pada masa itu. Di wilayah pendidikan, gagasan pendidikan yang memerdekaan mulai terlahir. 

Jauh setelah masa itu, memasuki abad 21, konsep pedagogi kritis dan pendidikan humanis mulai mendapat posisi. Segala hal berbau abad 20 dianggap kuno. Penerapan ketertiban dengan sistem perintah, paksaan, dan hukuman, mulai ditinggalkan karena alasan kemanusiaan. Hilangnya sekat Timur dan Barat karena penerimaan teknologi, dan kerjasama di berbagai lini. Pendidikan berorientasi pada industri, kemajuan, dan penghasilan.

Membaca KHD tidak bisa dengan sikap fanatis. Perlu pola pikir terbuka. Berani mengambil sikap, meninggalkan tradisi lama yang membelenggu. Ada yang harus tetap dipertahankan dan juga ada yang harus berani ditinggalkan. Sikap dinamis ditujukan KHD dalam tulisan asas penerimaan Taman Siswa.

Pada 15 Januari 1943, KHD menyampaikan pidato pada rapat ke-IV Panitia Adat dan Tata Negara Dahulu. KHD merasa terhormat, karena pada rapat tersebut posisi pendidikan mendapat perhatian penting selain masalah pengangguran. KHD mengibaratkan pengangguran sebagai penyakit, sedang didalam ilmu pengobatan modern menegaskaan menyehatkan lebih baik daripada mengobati, begitulah kiranya posisi pendidikan dalam merespon terjadinya pengangguran.

Dalam pembukaan pidatonya, KHD menyinggung masalah sistem pendidikan kolonial. Menurut KHD, sistem tersebut sangat mengecewakan karena pendidikan hanya diberikan kepada golongan tertentu, dan hasil pendidikannya diperuntukan untuk kepentingan kolonial, bukan nasional. Sistem tersebut sangat menghambat, mempersulit tersedianya pengajaran yang cukup baik bagi rakyat jelata. Adanya kesenjangan antara jumlah anak-anak yang bersekolah dengan yang buta huruf, perbandingan belanja guna pengajaran dengan belanja untuk keperluan lain-lainnya, semua itu menunjukan buruknya politik pengajaran dari pemerintah kolonial. Pendidikan kolonial tergambar semangat materialisme dan kapitalisme dari bangsa Belanda masa itu, karena bermaksud mengambil hasil yang sebanyak-banyaknya dari tanah Indonesia untuk kemakmuran negeri dan bangsa Nederland sendiri.

Sistem pendidikan dan pengajaran kolonial tidak mengindahkan maksud kultural, yakni semangat kebudayaan, untuk mempertinggi derajat kemanusiaan dari rakyat. Pengajaran yang tak berdasarkan semangat kebudayaan, dengan sendiri menjadi pabrik intelek belaka. Pendidikan dan pengajaran kolonial melahirkan intelektualisme, materialisme, dan individualisme, yang oleh KHD disebut sebagai penyakit yang muncul karena sistem pengajaran yang memisahkan dari rakyat.

Dari alasan tersebut KHD menyampaikan beberapa hal penting di dalam rapat.
  1. Soal pengajaran rakyat harua dianggap sebagai satu-satunya pertahanan yang maha penting; jika pengajaran teratur baik, maka dengan sendirilah maka beberapa penyakit masyarakat dapat terhindar dengan sendirinya.
  2. Rencana belanja untuk pengajaran rakyat harus sebesar-besarnya.
  3. Untuk memperbesar hasil dari pengajaran rakyat, haruslah dasar kebaratan yang penuh dengan semangat materialisme, intelektualisme, dan individualisme, diganti dengan dasar semangat ketimuran, berupa;
  • pengajaran rakyat harus bersemangat budi keluhuran manusia; karena itu harus mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme;
  • pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti, yakni masaknya jiwa seutuhnya;
  • pendidikan rakyat harus mendidik kearah kekeluargaan, yakni merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tanggungjawab, dsb.; mulai kekeluargaan dalam lingkungan yang kecil sampai kekeluargaan yang besar, misalnya bangsa-bangsa.


Pada pidato masa itu KHD mengajukan permintaan pada pemerintahan Dai Nippon untuk mendukung pendirian sekolah-sekolah di seluruh pulau Jawa sebagai wajib pergerakan  pengajaran kebangsaan dengan konsep yang disampaikan oleh KHD. Mulai masalah sifat dan bentuk segala pengajaran kebangsaan tiap jenjang. 

Jauh setelah peristiwa tersebut, saat ini kita bisa merasakan hasil dari perjuangan KHD di wilayah pendidikan. Namun apakah cita-cita pendidikan KHD sudah terwujud? Pertanyaan ini perlu dijawab sendiri. Jika kita mencoba mencari indikator kemajuan pendidikan saat ini dengan yang dicapai oleh Finlandia tentu sangat jauh.

Pendidikan Finlandia menerapkan lima aspek utama yang mendasari pembelajaran disekolah, yaitu kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan teknologi, dan pola pikir.

Guru Finlandia memiliki beban mengajar maksimal 18 jam perminggu, sehingga memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan rekan kerja dan murid, berbagi pengalaman dengan guru dari sekolah lain. Pembelajaran tidak terikat kelas, kadang dilakukan juga di alam terbuka. Murid usia 5-6 tahun menghabiskan waktu 4-5 jam sekolah di luar ruangan. Penerapan sistem seperti itu tentu harus disertai kesadaran sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Bila dibandingkan tentu kita akan merasa minder. Dan berkeinginan untuk mencontoh. Namun sebenarnya apa yang dijalankan di Finlandia itu banyak kemiripan dengan konsep pendidikan KHD. Kunci sukses pendidikan Finlandia ialah kemandirian, kebahagiaan, dan keluarga. Semua itu sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak lama. Persoalannya saat ini, Apakah kunci itu masih berfungsi di Indonesia? 



28 Maret 2019