ULASAN BUKU KI HADJAR DEWANTARA [#26]

: March 29, 2019


KI HADJAR DEWANTARA JILID I 
BAB II POLITIK PENDIDIKAN [#26]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka


: Bergerak Bersama  (Refleksi Menulis)


Awalnya saya menulis ulasan buku KHD sekedar iseng. Membagikan tulisan tersebut di grup-grup WhatsApp. Dari situ muncul banyak respon. Ada yang keluar tanpa pamit. Ada yang tetap bertahan. Ada yang menikmati tulisan saya. Ada yang memberi masukan-masukan. Ada yang mbatin. Ada yang menganggap spaming. Bodo amat.

Beberapa lama berjalan, saya mulai berpikir untuk mengabadikan tulisan-tulisan saya ini di Blog. Memori handphone saya terbatas. Alternatifnya ya disimpan dalam bentuk postingan di Blog. Namun saya tetap membagikan tulisan versi WhatsApp-nya di grup-grup.

Menjelang genap satu bulan menulis, saya menemukan kesadaran baru. Yang memaksa saya untuk menulis adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan pada saya; "Pak, tulisan yang bagus itu yang bagaimana? Pak, memulai menulis itu bagaimana? Pak, Saya malu tulisan saya jelek". Dan jawaban dari semua pertanyaan itu adalah langsung aksi, praktik. Apapun hasilnya.

Terkadang seseorang memiliki kemauan menulis. Tapi karena kemaluannya besar, akhirnya tidak tereksekusi. Kadang kala yang jadi sebab hanyalah masalah teknis. Semisal bingung nulis ejaan, katakanlah kata depan "di", yang benar disambung ataukah dipisah, inspirasi menulis hilang gegara energi terforsir pada yang demikian. Kalau boleh saya beri saran; bila ingin menulis ya menulislah, gak usah malu, ngapain juga malu, untuk memulainya jangan berpikir tentang ejaan dan kalimat yang benar. Ada waktunya sendiri. Semakin jam terbang menulismu tinggi, maka kualitas ejaan dan kalimatmu akan bertambah dengan sendirinya. Namun yang perlu diingat, kuncinya tetap berpikiran terbuka, terima segala respon, belajarlah dari kesalahan. Nanti akan ketemu sendiri bentuk tulisanmu.

Sebagai pengajar bahasa, menulis dengan gaya seperti ini beresiko. Pasalnya, saya menggunakan bahasa pergaulan, yang dari segi kaidahnya jauh dari sempurna menurut PUEBI. Resiko ini saya ambil karena beberapa waktu aktif di internet, ada fakta yang saya temukan. Tulisan di mesin pencari google yang selalu mendapat peringkat teratas adalah tulisan-tulisan para blogger. Sedangkan tulisan ilmiah berbahasa akademis cenderung tenggelam  di bawah mesin pencari. Hal tersebut menunjukan budaya populer kita saat ini. 

Sebagi pendidik saya perlu merespon hal tersebut. Gen-Z, cenderung memilih menggunakan bahasa santai. Agar terjadi komunikasi dalam pembelajaran, maka saya kadang mengambil risiko dengan berbahasa seperti mereka. Namun tetap memberi pengertian tentang pentingnya mengutamakan bahasa Indonesia yang baik. Karena bahasa juga merupakan benteng pertahanan budaya.

Di era internet saat ini, banyak orang kebingungan menyaring informasi. Bacaan dengan mudah didapatkan. Setiap hari orang selalu aktif lebih dari tiga jam di dunia maya. Membaca status media sosial, tulisan berantai di grup-grup WhatsApp atau yang lain. Aktivitas membaca tanpa disertai peningkatan daya berpikir menyebabkan kesulitan memfilter informasi. 

Upaya kecil yang bisa dilakukan untuk meningkatkan daya berpikir ialah menulis. Dengan menulis, seseorang akan terbiasa mengeluarkan pikirannya. Semakin sering berpikir, semakin tajam daya kekritisannya. Mengawali menulis memang sedikit sulit, ada banyak sekat yang perlu dihilangkan. Kunci utama menulis ialah jujur. Itu penting. Sampaikan informasi dengan bahasamu sendiri, beri pertimbangan. Seseorang bisa memberikan pertimbangan atau penilaian tentang suatu hal berarti ada proses pemahaman dipikirannya.

Poin yang ingin saya sampaikan pada tulisan-tulisan saya sebenarnya adalah motivasi. Motivasi untuk menulis, kalau bingung tentang tema bisa diawali dengan menulis ulasan berseri seperti saya. Jangan takut untuk memulai, berjalanlah perlahan, akui ketidaksempurnaanmu, nikmati prosesnya, berpikiran terbuka dan jangan berhenti untuk belajar. Sadari bila semua butuh proses. Selama masih ada nyawa berarti masih ada kesempatan untuk belajar. Jangan berhenti sebelum mampus.

Evaluasi dalam bentuk persentase yang bisa saya berikan sendiri untuk tulisan saya ialah;
1. 70% memindahkan isi buku.
2. 10% isi pikiran sendiri.
3. 70% ejaan masih jauh dari sempurna.
4. 60% bahasanya masih terasa kaku.
5. 85% temanya terasa berat.

dari persentase tersebut saya bisa menilai sendiri kualitas tulisan saya. Di pikiran saya, tulisan yang bagus itu bahasanya cair dan komunikatif, ada sense humor, mengaduk emosi pembaca, mendidik, menginspirasi, apa adanya, dan yang pasti bisa diterima oleh semua kalangan. Semenjak saya pensiun dini dari polisi bahasa, saya merasa sedikit rileks dalam menghadapi generasi masa kini. Beranikah Anda memulai untuk menulis sekarang? 



29 Maret 2019