KI HADJAR DEWANTARA JILID I
BAB I PENDIDIKAN [#4]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka
: Badan Wadag dan Rokh
Ada perasaan bingung dan buntu ketika memasuki hari keempat membaca tulisan KHD. Penggunaan bahasa yang berbeda struktur dg bahasa sekarang menjadi penyebab kesulitan menangkap maksud. Mungkin ini yg seperti dikatakan oleh Ben Anderson sebagai historical lobotmy. Salah satu cara mengubah perasaan tersebut ialah dg tekad, dan harus sedikit dipaksa.
Pada rapat umum Taman Siswa di Malang 2 Februari 1930, KHD menyampaikan pidato yang sangat penting. Pesan yg bisa saya tangkap berkaitan dg arah konsep pendidikan KHD, bahwa pendidikan harus selalu memperhatikan kehidupan dan penghidupan, artinya tidak boleh lepas dari lingkungan (alam & sosial) serta perkembangan zaman.
Konsep tersebut berdasar pada kaji terhadap tubuh manusia. Sebagai titah Tuhan, manusia terdiri atas badan wadag dan badan halus, badan jasmani dan badan rokhani. Maka tentang kebutuhannya pun menjadi bermacam dua juga. Ada yg perlu bagi badan wadagnya dan ada pula yg perlu bagi rokhnya.
Mengingat kodrat iradatnya Tuhan yg sedemikian itu, maka pendidikan tidak bisa hanya mementingkan salah satunya dari dua bagian yg tidak bisa dipisahkan. Oleh karenanya maka perkara pendidikan itu juga terbagi dua golongan, didikan lahir dan didikan batin, supaya dapat dicukupi keperluan penghidupan dan kehidupan.
Pendidikan harusnya memiliki posisi di tengah-tengah rakyat, agar tidak terlepas dari penghidupan dan kehidupan. Supaya pendidikan menjadi satu golongan dari pergaulan rakyat, supaya jadi sebagian usaha rakyat dalam mencari dan menentukan kemuliaannya. Perkara itulah yg menjadi tujuan dalam usaha lembaga pendidikan yg diprakarsai KHD (Taman Siswa).
KHD berpendapat bahwa pendidikan (Taman Siswa) juga harus mendukung gerakan rakyat untuk memperhatikan perikehidupan bangsa dalam perkara batin dan perbaikan penghidupan dengan menuntut hak-hak rakyat. KHD dalam teks pidatonya mengatakan perkara didikan lahir dan didikan batin inilah yg menjadi dasar adanya dua aliran pergerakan: ada yg mengutamakan penghidupan (perhimpunan-perhimpunan politik), dan ada pula yg mementingkan kehidupan (kulturil).
Usaha sosial yang mementingkan kedua-duanya harus ada hubungannya dengan kedua macam gerakan itu. Dari sebab itu, dg tegas KHD mengatakan bahwa gerakan Budi Oetomo sampai pada P.N.I. semuanya adalah konco Taman Siswa. Kita tahu bahwa organisasi tersebut merupakan organisasi bercorak nasionalisme. Oleh karenanya masih satu ide dg KHD.
Ulasan tersebut merupakan separuh dari isi pidato KHD pada rapat umum Taman Siswa di Malang 1930. Perlu digaris bawahi bahwa konteks pidatonya merupakan respon terhadap permasalahan sebelum proklamasi. Ada atau tidaknya relevansi dg situasi saat ini semuanya kembali kepada pembaca. Wallahua'lam Bishawab.
7 Maret 2019


