KI HADJAR DEWANTARA JILID I
BAB I PENDIDIKAN [#7]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka
: Pendidikan itu Tuntunan
Ada istilah Murid selangkah lebih maju daripada guru. Istilah itu muncul di zaman ketika teknologi internet sudah masuk diberbagai sendi. Informasi tentang apapun sangat gampang diakses. Guru yang tertinggal trend atau berita viral bisa dipastikan tertinggal selangkah dari murid, karena murid sangat aktif di dunia maya.
Pendidikan seharusnya sudah mulai meneliti tentang fenomena tersebut, agar mampu merumuskan strategi baru dalam persiapan menghadapi zaman. KHD dalam hal ini sudah menyadari bahwa bakal ada suatu keadaan yang menuju satu titik pertemuan yg saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga terjadi tarik menarik dan akhirnya jadi satu.
Seorang guru senantiasa ingat bahwa pendidikan itu hanya suatu "tuntunan" di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Ini berarti, hidup tumbuhnya anak-anak itu di luar kecakapan atau kehendak kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kekuatan kodrati yg ada pada anak-anak itu ialah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak. Seorang kaum pendidik hanya dapat "menuntun" tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhya itu.
Dalam menjelaskan hal ini, KHD mengibaratkan seorang pendidik seperti petani, sedang anak-anak seperti tumbuhan. Seorang tani yg menanam padi misalnya, ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, memberi rabuk dan air, memusnahkan ulat-ulat atau jamur-jamur yg mengganggu hidup tanamannya, begitu sebagainya. Meskipun ia dapat memperbaiki pertumbuhan tanamannya itu, tetapi ia tak akan dapat mengganti kodrat-iradatnya padi. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan pada yg ditanamnya tumbuh sebagai jagung atau berbuah dalam tiga bulan, pun tak dapat ia memeliharanya dg cara seperti memelihara kedelai. Tentu mustahil, Pak Tani harus takluk pada kodratnya kedelai. Demikianlah pendidikan itu, walaupun hanya dapat "menuntun" akan tetapi besarlah faedahnya bagi hidup dan tumbuhnya anak-anak.
Meskipun pendidikan itu hanya "tuntunan" saja di dalam tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga. Berhubung dg kodrat dan keadaannya masing-masing anak. Jikalau anak tidak baik dasarnya, tentulah kita mengerti sendiri, bahwa ia harus mendapat tuntunan, agar bertambah baiklah budi pekertinya. Anak yg tak baik dasar jiwanya dan tak mendapat tuntunan pendidikan, barang tentulah akan mudah menjadi orang jahat. Dengan adanya tuntunan, anak akan mendapat kecerdasan yg lebih tinggi dan luas dan terlepas dari segala pengaruh jahat.
Anak dg dasar baik, namun mendapat pengaruh buruk, tidak kurang akan menjadi jahat. Pengaruh yg dimaksudkan itu timbul dari beberapa macam keadaan anak. Terutama dalam keluarga.
Mengenai perlu tidaknya tuntunan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dg soal perlu atau tidaknya pemeliharaan di dalam tumbuhnya tanaman. Misalnya, kalau sebutir jagung yg baik dasarnya jatuh pada tanah yg baik, banyak airnya, dan dapat sinar matahari, maka pemeliharaan dari Pak Tani tentu akan menambah baiknya tanaman. Kalau tak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka biji jagung itu, walaupun dasarnya baik, tak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan. Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dg pemeliharaan yg sebaik-baik nya oleh Pak Tani, maka biji itu akan dapat tumbuh baik.
Pendidikan kita saat ini sedang mengalami musim pancaroba. Terjadi peralihan musim yg tidak menentu. Banyak gangguan-gangguan yg bisa merusak "tanaman" kita, oleh karenanya perlu inovasi dan pemeliharaan agar "tanaman" kita tumbuh sehat.
Dahulu, KHD mengritik opvoeding atau pedagogiek barat yg menggunakan dasar regering, tucht, dan orde (perintah, hukuman, dan ketertiban). Menurut KHD praktik pendidikan seperti itu berlaku sebagai sebuah perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Buahnya, anak akan rusak budipekertinya, disebabkan selalu hidup di bawah paksaan dan hukuman, yg biasanya tiada setimpal dg kesalahannya. Kalau menjadi orang tua, ia tiada akan bekerja, kalau tiada dipaksa, kalau tidak ada perintah.
Sedang istilah opvoeding atau paedagogiek tidak dapat diterjemahkan dengan bahasa kita. Dalan bahasa Jawa ada istilah Panggulawentah namun itu bukan memberikan pengertian opvoeding, sebab panggulawentah hanya pekerjaannya si dukun bayi. Yang hampir semaksud yaitu perkataan: Momong, Among, dan Ngemong. Itulah yg dipakai sebagai dasar pendidikan kita.
Guru tidak boleh tertinggal dari siswa. Kita menyadari bahwa anak sekarang sering meniru dari apa yg mereka tonton dr layar kaca. Tayangan tentang kekerasan, su'ul adab, pornografi, dan yg negatif lain perlu dicermati sebagai "hama pengganggu". Oleh karena itu seorang guru harus mampu memberikan tuntunan untuk menyadarkan muridnya dalam menyikapi trend secara bijak. Ada banyak cara yg bisa dilakukan, suatu misal ikut terjun langsung menciptakan iklim media yg positif, agar guru tidak dianggap sbg fosil krn siswa lebih tertarik belajar di depan layar kaca. Wallahua'lam.
10 Maret 2019


