KI HADJAR DEWANTARA JILID I
BAB I PENDIDIKAN [#8]
Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka
: Dasar Jiwa Anak dan Kekuasaan Pendidikan
Seorang anak terlahir dengan keunikannya. Itulah yang menjadikan masing-masing anak memiliki kemampuan yg berbeda. KHD sudah menyadari hal ini dalam merumuskan gagasan pendidikannya. Beliau lebih mengedepankan kodrat dan kenyataan yg ada pada diri anak.
Seorang anak terlahri dengan dasar jiwa, yaitu keadaan jiwa yg asli menurut kodratnya sendiri, sebelum dapat oengaruh dari luar. Ada tiga aliran tentang dasar jiwa anak yg berhubungan dg soal daya pendidikan.
Pertama, aliran lama yg sudah hampir tidak diakui oleh para kaum cendekiawan. Menurut aliran ini, anak yg terlahir ke dunia itu diumpamakan sebagai kertas yg belum ditulis, sehingga kaum pendidik boleh mengisi kertas yg kosong itu menurut kehendaknya. Artinya si pendidik berkuasa seluas-luasnya untuk membentuk watak atau budi seperti yg diinginkan. Teori ini bernama teori tabula rasa.
Kedua, aliran yg bertentangan atau negatif terhadap teori pertama. Aliran ini berpendapat, bahwa anak itu lahir sebagai sehelai kertas yg sudah ditulisi sepenuhnya, hingga tidak mungkinlah pendidikan dari siapapun dapat mengubah watak-wataknya anak. Pendidikan hanya dapat mengawasi dan mengamat-amati, jangan sampai ada pengaruh-pengaruh yg jahat mendekati anak.
Ketiga, aliran yg terkenal dg nama teori konvergensi, teori ini mengajarkan bahwa anak yg dilahirkan itu boleh diumpamakan sehelai kertas yg sudah ditulisi penuh, akan tetapi semua tulisan itu masih buram. Menurut aliran teori ini pendidikan itu berkewajiban dan berkuasa menebalkan segala tulisan yg suram dan yang berisi baik, agar kelak nampak sebagai budi pekerti baik. Sedang segala tulisan yg mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan makin suram.
Menurut teori konvergensi, watak manusia itu dibagi dua bagian. Pertama dinamakan bagian intelligibel, yakni yang berhubungan dg kecerdasan angan-angan atau fikiran (intelek) dan yang dapat berubah menurut pengaruh pendidikan atau keadaan. Sedang yang Kedua, dinamakan bagian yg biologis, yakni yg berhubungan dg dasar hidup manusia (bios : hidup) dan yg dikatakan tidak akan dapat berubah lagi selama hidup.
Bagian intelligibel dapat berubah karena pengaruh, misalnya kelemahan fikiran, kebodohan, kurang baiknya pemandangan, kurang cepatnya berfikir dsb. Pendek kata sama halnya dg keadaan fikiran, serta kecakapan untuk menimbang-nimbang atau merasa-rasakan dan kuat-lemahnya kemauan.
Bagian biologis yg tak dapat berubah, ialah bagian jiwa mengenai hal perasaan di dalam jiwa manusia, misalnya rasa takut, rasa malu, rasa kecewa, rasa iri, rasa egois, rasa sosial, rasa agama, rasa berani, dan sebagainya. Rasa-rasa tersebt tetap ada di dalam jiwa manusia, mulai anak masih kecil hingga menjadi orang dewasa.
Seringkali anak dengan dasar jiwa penakut misalnya, setelah mendapat didikan yang baik lalu hilang rasa takutnya. Ini sebenarnya bukanlah anak kehilangan perasaan takutnya, namun karena mendapat didikan sehingga ia mampu mengendalikan perasaan takutnya dan memunculkan perasaan beraninya. Hal ini berarti, ia telah memperoleh kecerdasan fikiran, sehingga pandai menimbang-nimbang dan memikir-mikir, kemudian dapat memperkuat kemauannya agar tidak takut. Ketakutannya tidak hilang, hanya tertutup, maka ada kalanya ia akan merasa takut dg sekonyong-konyong yaitu jika fikirannya sedang tak bergerak.
Demikian pula orang yg bertabiat pemalu, belas kasihan, tamak, bengis, murka, pemarah dsb. selama ia sempat memikir-mikirkan segala keadaannya, dapat juga ia menahan nafsunya yg asli, akan tetapi jika fikirannya tak dapat bergerak tentulah tabiat-tabiatnya yg asli akan muncul.
11 Maret 2019


